MASIGNASUKAv101
6659691418091638551

Bagaimana Optimisme Meningkatkan Kualiatas Hidupmu

Bagaimana Optimisme Meningkatkan Kualiatas Hidupmu
Add Comments
09/10/19

Optimisme adalah sebuah upaya untuk melihat sesuatu dari sudut pandang positif. Dengan menantang self-talk negative dan mengganti pikiran pesimis dengan hal lebih positif, kamu akan belajar bagaimana menjadi lebih optimis.

Manfaat.

Berbagai hasil penelitian menunjukkan ada banyak manfaat yang kamu rasakan jika menjadi orang yang optimis.

1.Kesehatan yang lebih baik
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang lebih optimis pada usia 25 tahun jauh lebih sehat pada usia antara 45 dan 60 dari pada orang lain yang memiliki rasa pesimistis.

2. Umur lebih panjang
Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang optimis cenderung dapat hidup lebih lama daripada orang-orang pesimis

3.Tingkat stress yang lebih rendah 
Orang-orang optimis, tidak hanya mengalami stress yang lebih sedikit, namun kemampuan mereka untuk pulih pun lebih baik dari pada orang-orang pesimis sebab rasa optimis akan membuat perubahan positif pada kehidupan meraka

4. Motivasi lebih tinggi
Saat kamu mengejar suatu tujuan, rasa optimis akan membantumu mempertahankan motivasi yang kamu miliki. Orang-orang optimis akan selalu fokus pada setiap perubahan positif yang dapat mereka lakukan untuk mencapai apa yang mereka impikan.

5. Lebih sehat secara mental
Tidak hanya fisik, kesehatan mental juga akan memberikan dampak pada metalmu. Orang-orang dengan rasa optimis melaporkan memiliki tingkat kesejahteraan yang kebih baik dari pada orang pesimis. Penelitian juga menunjukkan bahwa optimism yang kamu miliki akan secara signifikan mengurangi depresi.

Optimisme Vs Pesimisme

Pesimisme dapat dipahami sebagai kecenderungan untuk percaya bahwa hal buruk pasti terjadi, mereka melakukan kesalahan, dan akan menemui hasil yang negative. Sederhananya, orang-orang pesimis akan selalu merasa tidak sanggup atau akan gagal sebelum mereka menuntaskan apa yang mereka lakukan

Optimisme justru memandang bahwa hal baik akan terjadi, mereka akan melihat sebuah kemunduran sebagai sebuah peristiwa yang sifatnya hanya sementara yang disebabkan oleh keadaan. Ketimbang merasa tidak berdaya dalam menghadapi kegagalan, Perasaan optimis akan membantumu melihat tantangan sebagai Sesutu yang masih dapat diperbaiki atau diatasi.
Baca juga: Apa itu Hirarki Kebutuhan Maslow?
Perbedaan dari keduanya dapat kamu amati dari bagaimana mereka menjelaskan sesuatu atau apa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Perbedaan keduanya dapat dilihat dari berbagai sisi:

1. Personalisasi
Ketika menemui sebuah masalah, seseorang yang optimis akan cenderung untuk menyalahkan kondisi eksternal. Si Pesimis justru akan lebih banyak menyalahkan dirinya jika menemui sebuah masalah.

Pada sisi lain si Optimis akan mengaitkan keberhasilan yang mereka raih sebagai hasil dari jerih payahnya. Sementara si pesimis, menghubungkan hasil yang diraih dengan pengaruh eksternal.

2.Permanen
Si Optimis akan melihat sebuah kegagalan sebagai sesuatu yang sifatnya sementara, sehingga mereka bisa dengan mudah untuk bangkit dari keterpurukan. Si pesimis justru melihat kegagalan sebagai sebagai suatu yang tidak dapat diubah. Inilah sebab orang=orang pesimis menjadi sulit keluar dari masa-masa keterpurukan.

3. Pervasif
Saat mengalami sebuah kegagalan pada satu bidang, si Optimis tidak akan mengaitkannya pada bidang kemampuannya yang lain. Namun si Pesimis, mengangap kegagalannya pada satu bidang secara luas, sehingga akan membuatnya merasa menjadi seorang yang gagal pada semua bidang.

Penelitian menunjukkan bahwa pesimis cenderung akan menjadi kaum minoritas. Sebagian besar orang (60-80%) cenderung optimis ke berbagai tingkatan.

Origins
Belajar optimis adalah sebuah konsep yang lahir dari psikologi positif. Optimisme diperkenalkan pertama kali oleh Martin Seligman yang juga dikenal sebagai bapak psikologi positif.

Menurut Seligman, proses belajar menjadi seorang yang optimis adalah cara untuk membantu seseorang untuk meraih kesehatan mental dan menjalani hidup yang lebih baik.

Ketidakberdayaan yang Dipelajari

Pada awalnya Seligman berfokus pada apa yang dikenal sebagai ketidakberdayaan yang dipelajari. Melibatkan menyerah jika telah meyakini bahwa apa yang dikerjakan tidak akan menghasilkan suatu perubahan.

Gaya menyelaskan mengambil peran dalam ketidakberdayaan yang dipelajari, bagaimana kamu menjelaskan hal yang terjadi padamu, apakah kamu melihatnya sebagai suatu yang disebabkan oleh faktor eksternal atau internal, berkontribusi pada apakah kamu akan mengalami ketidakberdayaan atau tidak,

Arah Baru dalam Psikologi

Sebagai hassil dari pergeseran, Seligman akhirnya menulis sebuah buku yang berfokus pada psikologi Optimisme yang dipelajari. Karyanya itulah yang mendasari lahirnya psikologi positif. Dalam sejarah APA, Seligman akhirnya menjadi presiden American Psychological Association dengan suara terbanyak

Seligmen berfokus pada bagaimana membuat individu menjadi bahagia dan menjalani kehidupan dengan baik, sebab ia percaya, bahqa individu akan menjalani hidup yang lebih sehat dan bahagia dengan belajar menjadi optimis.

Bisakah Optimisme dipelajari?

Meskipun optimism memiliki berbagai manfaat, namun sebagian orang akan bertanya, dapatkan orang-orang belajar memandang sesuatu dari prespektif positif? Sehingga orang yang paling pesimis pun bisa mengubah pandangannya?

Apakah optimism itu ada sejak lahir atau sesuat yang dapat dipelajari?

Penelitian menunjukkan bahwa optimism, selain karena diturunkan, tingkat optimis juga dipengaruhi oleh pengalaman masa kanak-kanan, termasuk kehangatan orang tua dan stabilitas keuangan

Meski demikian, hasil karya Seligman menunjukkan bahwa optimisme adalah hal yang dapat dipelajari. Siapapun dapat mempelajari keterampilan itu, tanpa peduli sepesimis apapun dirimu, Kamu bisa mempelajarinya.

ABCDE Model

Seligman percaya bahwa siapapun dapat belajar menjadi lebih optimis. Ia mengembangkan sebuah tes optimism yang dipelajari untuk melihat betapa optimisnya dirimu. Lewat itu orang orang yang mulai lebih optimis dapat lebih meningkatkan kesehatan emosionalnya, sementara mereka yang cenderung lebih pesimis dapat memperoleh manfaat dengan penurunan peluang mereka mengalami gejala deresi.

Pendekatan Seligman untuk belajar optimisme didasarkan pada teknik kognitif-perilaku yang dikembangkan oleh Aaron Beck dan terapi perilaku emotif rasional yang dibuat oleh Albert Ellis. Kedua pendekatan difokuskan pada mengidentifikasi pemikiran yang mendasari apa yang mempengaruhi perilaku dan kemudian secara aktif menantang keyakinan tersebut.

Pendekatan Seligmen dikenal sebagai “ABCDE” yang dipelajari:

Adversity adalah situasi yang membutuhkan respon.
Belief adalah bagaimana kamu mengartikan peristiwa itu
Consequences adalah caramu berperilaku, merespon dan merasakan
Disputation adalah upaya yang kamu keluarkan untuk berdebat atau membantah kepercayan tersebut.
Energization adalah hasil yang muncul dari upaya menantang keyakinanmu

Cara menggunakan model ABCDE untuk menjadi lebih optimis

Adversity
Pikirkan tentang sebuah kendala yang baru saja kamu alami. Hal itu bisa mengenai kesehatan, keluaga, hubungan, pekerjaan, atau kendala lainnya yang kamu alami

Misalnya, anda berecana untuk sesalu rutin berolahraga namun kamu ternyata sulid mewujudkannya.

Belief
Cetata setiap pemikiran yang muncul dibenakmu, cobalah untuk jujur dengan dirimu sendiri dan jangan pernah menutupi sedikitpun.

Misalnya dalam benakmu, terpikir,” sepertiinya saya sulit mengikuti program latihan ini” atau mungkin” saya sepertinya tidak pernah bisa mencapai tujuanku”

Consequences
Cobalah melihat kembali apa yang telah kamu catat, dan lihat apakah itu mengahasilkan tindakan positif atau justru menggambarkan bagaimana kamu tidak bisa mencapai tujuanmu

Pada contoh yang saya tuliskan kamu akan menyadari bahwa kepercayaan negative yang kamu ungkapkan membuatnya menjadi sulit untuk tetap berada dalam rencana latihan. Mungkin pada akhirnya kamu mulai melewatkan latihan dan kurang berusaha untuk pergi ketempat latihan.

Disputation
Perselisihkan saja keyakinanmu, dan buat keyakinan itu menjadi salah, pikirkan hal sebaliknya, misalnya kamu memikirkan bagaimana jika kamu berhasil melakukan seluru latihan dan kamu mendapatkan hassil yang kamu mau.

Energization
Setelah kamu manantang kepercayaan pada dirimu, lihatlah, apa yang kamu rasakan. Setelah memikirkan bagaimaa kamu jika berhasil mencapai tujuanmu, tentu akan membantumu untuk lebih termotivasi dan melihat bahwa harapanmu tak sepupus sebelumnya.

Belajar optimism mungkin akan membutuhkan waktu
Ingatlah bahwa ini adalah proses belajar, dan kamu perlu untuk terus mengulanginya.  Jika kamu menemukan dirimu sedang berada pada kondisi sulit, cobalah ingat dan terapkan langkah ini. Proses ini akan membantumu menghilangkan pikiran negatf dan menggantinya menjadi pemikiran yang lebih positif

Hal yang paling menggemberikan dari sebuah optimism adalah, hal itu melibatkan sebuah keterampilan yang tentunya itu bisa dipelajari. Pada akhirnya, optimism yang dipelajari, lebih dari sekedar meningkatkan kesejahteraan dan menangkal penyakit psikis seperti depresi dan bunuh diri.

Abd Wahid Zulfikar

Awezet merupakan implementasi keilmuan yang berusaha memberikan panduan dan informasi terkait perilaku sosial, psikologi dan pengembangan karir yang lahir dari semangat untuk terus berbagi informasi disekitar kita.

Semoga Bermanfaat..
Jangan lupa meninggalkan komentar ya.

  1. berkat baca di blog ini insya allah saya akan optimis dalam segala hal, biar dapat 5 manfaat tersebut; yaitu Kesehatan yang lebih baik, Umur lebih panjang, Tingkat stress yang lebih rendah, Motivasi lebih tinggi dan Lebih sehat secara mental. nice info, thanks gan. salam mediaweb4u

    BalasHapus
  2. kenapa ya gan kadang saya optimis kadang enggak,,, selalu berubah ubah

    BalasHapus