MASIGNASUKAv101
6659691418091638551

Penyesuaian Pekerjaan pada Masa Dewasa Awal

  Penyesuaian Pekerjaan pada Masa Dewasa Awal
Add Comments
17/02/17


Gambaran Mengenai Pekerjaan

Ketika kita mengeksplorasi tipe pekerjaan yang kita sukai dan memiliki kemungkinan untuk sukses, kita perlu mengetahui berbagai bidang dan perusahaan. Pekerjaan bisa saja memiliki banyak lowongan setiap tahunnya, namun sedikit lowongan yang di tahun berikutnya, terkait dengan perubahan kondisi ekonomi. Dengan demikian, mengikuti prospek pekerjaan di berbagai bidang merupakan hal  yang penting untuk dilakukan.

Menurut buku pedoman 2010 – 2011, berbagai industry pelayanan, khususnya pelayanan dibidang pendidikan dan kesehatan, serta pelayanan professional dan bisnis, diproyeksikan untuk memberikan keterangan mengenai berbagai pekerjaan terbaru di decade berikutnya. Pertumbuhan pekerjaan yang diproyeksikan ini, bervariasi menurut pendidikannya. Pekerjaan yang menuntut gelar sarjana merupakan pekerjaan yang diharapkan mencapai pertumbuhan yang paling besar. Sebagian besar pekerjaan dengan gaji tertinggi membutuhkan gelar sarjana yang tinggi pula.

Pengaruh Kerja

Pekerjaan mendefinisikan seseorang secara mendasar (Blustein, 2008). Pekerjaan sangat memengaruhi kondisi financial, kondisi rumah, cara meluangkan waktu, lokasi rumah, sahabat-sahabatnya, dan kesehatan (Hodson, 2009). Beberapa orang memperoleh identitasnya melalui pekerjaan. Pekerjaan juga menciptakan sebuah struktur dan ritme dalam hidup yang sering kali hilang jika individu tidak bekerja selama periode waktu tertentu. Ada banyak individu yang mengalami stress emosi dan rendah diri karena tidak mampu bekerja.

Survei menyebutkan bahwa, orang Amerika (35 %) mengaku bekerja selama 40 jam perminggu dan hanya 18% yang bekerja 51 jam atau lebih perminggu (Pusat Penelitian Survey di Uiversitas Cnne cticut, 2000).  Selebihnya terdapat 10% yang bekerja dibawah  30 jam perminggu.

Pemikiran yang penting tentang pekerjaan adalah seberapa besar stress yang ditimbulkannya (Burgard, 2009 ; Fernandez, dkk, 2010). Survey nasional terbaru terhadap orang dewasa di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa 55% termasuk kurang produktif karena stress (Asosiasi Psikologi Amerika, 2007). Dalam studi ini, 52 % melaporkan bahwa mereka memikirkan atau sudah melakukan keputusan terkait karier, seperti mencari pekerjaan baru, menolak promosi, atau berhenti bekerja karena stress ditempat kerja (Asosiasi Psikologi Amerika, 2007). Dalam survey ini, sumber utama stress mencakup gaji rendah (44%), kekurangan kesempatan kenaikan pangkat (42%), ekspektasi kerja yang tidak pasti (40%), dan jam kerja yang panjang (39%).

Banyak orang dewasa mengubah ekspektasi mereka terhadap pekerjaan, akan tetapi sering kali masih saja perusahaan belum memenuhi ekspektasi mereka (Grzywacz, 2009 ; Lavoie – Tremblay, dkk, 2010 ; Moen, 2009). Sebagai contoh kebijakan dan praktik terbaru dirancang untuk tenaga kerja pria (lajang) dan ekonomi industrial, membuat kebijakan beserta praktik tersebut menjadi tidak mengikutsertakan tenaga kerja pria dan wanita, atau orang tua tunggal dan pencari nafkah ganda/dual earners (suami – istri sama-sama bekerja). Banyak pekerja masa sekarang menginginkan fleksibilitas dan punya kendali yang lebih besar atas waktu dan jam kerja mereka, akan tetapi perusahaan/pemberi kerja masih kurang fleksibel, meski kebijakan seperti flextime mungkin sudah tertulis.

Bekerja Semasa Kuliah

Persentasi mahasiswa yang bekerja penuh waktu meningkat dari 34% ditahun 2970 menjadi 46% ditahun 2006 (menurun dari puncaknya sebesar 52% di tahun 2000) (Pusat statistic Pendidikan Nasional 2008). Dalam servey terbaru ini, ada 81% mahasiswa yang bekerja paruh waktu di Amerika Serikat.

Bekerja bisa membantu atau melunasi biaya sekolah, tetapi bekerja juga bisa membatasi kesempatan mahasiswa untuk belajar. Bagi mereka yang mengidentifikasi diri mereka terutama sebagai mahasiswa, salah satu studi nasional menemukan bahwa semakin meningkatnya jam kerja perminggu, nilai mereka pun menurun (Pusat Nasional untuk Statistik Pendidikan, 2002). Maka mahasiswa perlu secara cermat menelaah apakah jumlah jam kerja berdampak negative terhadap kesuksesan perkuliahan mereka.

Tentu saja, pekerjaan juga bisa berkontribusi terhadap pendidikan. Lebih dari 1000 perguruan tinggi di Amerika menawarkan program kerja (co – op), dimana kesempatan magang ditawarkan dalam bidang-bidang yang tertarik untuk didalami. Kesempatan kerja berguna lainnya di masa kuliah mencakup magang dan paruh waktu atau kerja pada musim panas yang relevan dengan bidang studi. Berpartisipasi dalam pekerjaan ini bisa menjadi factor utama untuk mengetahui focus ketika ingin memasuki bidang kerja yang diinginkan setelah lulus.

Pengangguran

Pengangguran berdasarkan berbagai hasil studi dilaporkan bertampak pada stress, baik itu bersifat sementara cyclical, atau permanen (Perrucci & Perrucci, 2009 ; Romans, Cohen, & Forte, 2010). Masalah financial perbankan dan resesi pada decade pertama di abad 21 menyebabkan sangat tingginya angka pengangguran, khususnya di Amerika Serikat. Para peneliti telah menemukan bahwa pengangguran berkaitan dengan masalah-masalah fisik (seperti serangan jantung dan stroke), masalah-masalah mental (seperti depresi dan kecemasan), kesulitan pernikahan, dan pembunuhan (Gallo, dll, 2006). Studi longitudinal yang dilakukan selama 15 tahun terakhir yang melibatkan 24.000 orang dewasa, menemukan bahwa terjadi penurunan kepuasan hidup setelah pengangguran ; kepuasan hidup juga meningkat setelah individu bekerja kembali, meskipun tidak sepenuhnya pulih seperi sebelum menganggur (Lucas, dll, 2004).

Stress yang muncul juga tidak hanya disebabkan oleh kehilangan penghasilan dan kesulitan financial namun karena kehilangan harga diri (Audhoe, dkk, 2010 ; Beutel, dkk, 2010). Individu yang paling dapat mengatasi pengangguran adalah individu yang memiliki sumber daya financial, sering menabung, atau memperoleh penghasilan dari keluarga lain. Pemahaman dan adaptasi dari anggota keluarga juga dapat membantu individu mengatasi pengangguran. Konseling pekerjaan dan self – help groups dapat memberikan nasihat praktis dalam mencari dan memulai bekerja lagi, dalam mengembangkan keterampilan wawancara, serta dalam memberikan dukungan emosional.

Pasangan yang Bekerja

Pasangan yang bekerja dapat memiliki masalah dalam menemukan keseimbangan antara bekerja dan hal-hal lainnya dalam hidup (Eby, Maher, & Butts, 2010 ; Moen, 2009 ; Setterson & Ray, 2009). Jika suami – istri sama-sama bekerja, siapakah yang akan merawat rumah.

Meskipun keluarga dengan pencari nafkah tunggal masih merupakan golongan yang berarti, di tiga decade ini mengalami peningkatan jumlah pasangan yang bekerja. Seiring dengan peningkatannya jumlah wanita yang bekerja di luar rumah, pembagian tanggung jawab antara bekerja dan keluarga juga berubah : (1) Tanggung jawab para suami terhadap pemeliharaan rumah meningkat, (2) Tanggung jawab para wanita sebagai pencari nafkah utama meningkat, (3) Pria lebih berminat terhadap keluarga dan pengasuhan.

Keragaman di Tempat Kerja

Tempat kerja menjadi semakin beragam (Occupational Outlook Handbook, 2008 – 2009). Ketika pada satu waktu hanya sedikit wanita yang bekerja diluar rumah, di Negara maju jumlah wanita yang memasuki lapangan kerja semakin meningkat. Sebuah proyek terbaru mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerja wanita dalam lapangan kerja di Amerika akan meningkat lebih cepat dari tenaga kerja laki-laki hingga tahun 2018 (Occupational Outlook Handbook, 2010 – 2011).

Keragaman etnis juga meningkat di lapangan kerja di setiap Negara maju. Keberagaman yang terus meningkat di tempat kerja membutuhkan sensitivitas terhadap perbedaan budaya, dan nilai budaya yang dibawa pekerja ke dalam pekerjaan perlu diakui dan dihargai (Fassinger, 2008).

Abd Wahid Zulfikar

Awezet merupakan implementasi keilmuan yang berusaha memberikan panduan dan informasi terkait perilaku sosial, psikologi dan pengembangan karir yang lahir dari semangat untuk terus berbagi informasi disekitar kita.

Semoga Bermanfaat..
Jangan lupa meninggalkan komentar ya.